2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA TOBU KECAMATAN TOBU KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN Kase A)* Ledo E.S M)** Ngginak J)** Desa Tobu merupakan salah satu Desa yang berada di Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Masyarakat di Desa Tobu memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang jenis-jenis tumbuhan obat yang tumbuh di pekarangan rumah, ladang maupun hutan, masyarakat memahami bahwa setiap tumbuhan memiliki khasiat tertentu yang mampu mengobati berbagai jenis penyakit seperti demam, batuk dan diare. Tujuan adalah mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan obat yang terdapat di Desa Tobu, mengetahui bagian-bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional dan mengetahui cara pengolahan tumbuhan obat oleh masyarakat Desa Tobu.Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2025 di Desa Tobu. Metode Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pemilihan responden dalam penelitian adalah purposive sampling. Berdasarkan tujuan penelitian hasil inventarisasi dan identifikasi 43 jenis tumbuhan yang berasal dari 25 familli tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai sumber obat. Familli dengan spesies terbanyak ditemukan adalah Asteraceae dan Euphorbiaceae. Organ tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional berbeda-beda tergantung dari jenis tumbuhan. Bagian organ tumbuhan yang sering digunakan antara lain akar, kulit batang, daun, buah, pucuk, umbi dan rimpang. Secara keseluruhan dari jenis tumbuhan yang sudah teridentifikasi, kulit batang merupakan organ yang paling sering digunakan yakni sebanyak 22%, akar 21%, daun 18%, buah 12% pucuk 11% dan yang paling sedikit umbi dan rimpang 8%. Cara pemanfaatan tumbuhan sebagai obat oleh masyarakat diantaranya menggunakan empat cara yaitu direbus, ditumbuk, langsung dimakan dan dipanggang diapi. Presntase cara pengolahan tumbuhan dengan cara ditumbuk sebesar 63%, direbus 23%, dipanggang diapi7% dan langsung dikonsumsi 7%. Kata Kunci : Etnobotani, Tumbuhan Obat, Desa Tobu Keterangan : *) : Peneliti **) : Pembimbing
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK INVENTARISASI JENIS TUMBUHAN MANGROVE DI WILAYAH PESISIR PANTAI DESA PARITI KECAMATAN SULAMU KABUPATEN KUPANG Mone, D. K)* Rafael, A)** Ngginak, J)** Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir. Desa Pariti Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki ekosistem mangrove, namun penebangan liar, alih fungsi lahan, dan pencemaran masih kerap dijumpai.tujuan adalah menginventarisasi jenis tumbuhan mangrove yang terdapat di wilayah pesisir Pantai Desa Pariti serta menganalisis kerapatan, dan dominansi. Metode yang digunakan adalah Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif atau metode campuran dengan cara melakukan observasi terlebih dahuluh kemudian peneliti menarik garis transek sejauh 50 M kemudian membuat plot pada kedua transek, kemudian peneliti melakukan penjelajahan di setiap plot untuk mengidentifikasi, mengamati dan mendeskripsikan spesies yang ditemukan di setiap plot. sedangkan teknik pengambilan sampelnya menggunakan line transek yang dimodifikasi berdasarkan metode garis pantai berpeta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 spesies mangrove di Pantai Pariti, yaitu Sonneratia alba, Avicennia alba, Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, dan Ceriops tagal. Spesies-spesies tersebut termasuk dalam tiga famili, yaitu Rhizophoraceae, Lythraceae, dan Acanthaceae. Dengan nilai tertinggi keanekaragaman pada tingkat semai terdapat pada transek 2 plot 3 dengan nilai H’=5,81 dan terendah terdapat pada transek 1, plot 1 dengan H’= 0, dengan spesies yang mendominasi yaitu Sonneratia alba dan Avicennia alba. Nilai tertinggi keanekaragaman tingkat pancang terdapat pada transek 2 plot 3 dengan H’=5,76 dan terendah terdapat pada transek 1 plot 1 dengan H’=0 dengan spesies yang mendominasi Sonneratia alba, Avicennia alba, Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa. Nilai tertinggi keanekaragaman tingkat pohon terdapat pada transek 2 plot 3 H’= 4,28 dan terendah H’=1,94 dengan jenis yang medominasi yaitu Sonneratia alba dan Avicennia alba. Kerapatan tertinggi pada tingkat semai sebesar 69 ind/ha (40,08%), pada tingkat pancang 2,8 ind/ha (1,62%) dan pada tingkat pohon 0,52 ind/ha (0,30%). Kata kunci : Inventarisasi, Mangrove, Pariti, Keanekaragaman, Kerapatan Keterangan : *) Peneliti **) Pembimbing ABSTRACT INVENTORY OF MANGROVE PLANT SPECIES IN THE COASTAL AREA OF PARITI VILLAGE, SULAMU DISTRICT, KUPANG REGENCY Mone, D. K)* Rafael, A)** Ngginak, J)** The mangrove ecosystem is one of the coastal ecosystems that has an important role in maintaining the balance of the coastal environment. Pariti Village, Sulamu District, Kupang Regency, is one of the coastal areas that has a mangrove ecosystem, but illegal logging, land conversion, and pollution are still often found. The aim is to inventory the types of mangrove plants found in the coastal area of Pariti Village Beach and analyze density and dominance. The method used is The method used in this study is qualitative and quantitative or mixed methods by conducting observations first then the researcher draws a transect line as far as 50 M then makes a plot on both transects, then the researcher explores each plot to identify, observe and describe the species found in each plot. while the sampling technique uses a modified line transect based on the mapped coastline method. The results showed that there are 6 mangrove species in Pariti Beach, namely Sonneratia alba, Avicennia alba, Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, and Ceriops tagal. These species belong to three families, namely Rhizophoraceae, Lythraceae, and Acanthaceae. With the highest value of diversity at the seedling level found in transect 2 plot 3 with a value of H’=5.81 and the lowest found in transect 1, plot 1 with H’=0, with the dominant species being Sonneratia alba and Avicennia alba. The highest value of diversity at the sapling level found in transect 2 plot 3 with H’=5.76 and the lowest found in transect 1 plot 1 with H’=0 with the dominant species being Sonneratia alba, Avicennia alba, Rhizophora mucronata and Rhizophora stylosa. The highest value of diversity at the tree level found in transect 2 plot 3 H’=4.28 and the lowest H’=1.94 with the dominant species being Sonneratia alba and Avicennia alba. The highest density at the seedling level was 69 ind/ha (40.08%), at the sapling level 2.8 ind/ha (1.62%) and at the tree level 0.52 ind/ha (0.30%). Keywords: Inventory, Mangrove, Pariti, Biodiversity, Density Information: *) Researcher **) Adviser
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi berjudul: “TUAN AIR” dengan sub judul: “Suatu Kajian Ekoteologi Dalam Usaha Mentransformasikan Pemahaman Jemaat GMIT O’emathonis Tubu Mnanu Tentang Kesakralan dan Nilai Intrinsik Mata Air Sonbilo” yang ditulis oleh Yosua Umbu Zogara Wolagole. Hadirnya budaya dalam suatu kelompok masyarakat akan membawa dampak tersendiri tentang bagaimana memahami kehadiran setiap ciptaan yang ada di bumi ini baik secara ekologis maupun kontekstual. Masalah yang diangkat oleh penulis akan berfokus pada sikap dan pemahaman jemaat GMIT O'emathonis Tubu Mnanu tentang sikap dan pemahaman jemaat yang dualistik antroposentrik akan nilai intrinsic dan kesakralan dari air terkhususnya mata air Sonbilo. Jemaat GMIT O'emathonis Tubu Mnanu adalah jemaat yang telah menganut Kekristenan sejak lama, namun penulis melihat adanya permasalahan ekoteologis dalam pemahaman mereka berdasarkan perspektif budaya tentang kehadiran air itu sendiri. Dalam pemahaman budaya, jemaat ini memahami bahwa dalam keberlangsungan ekosistem air masih terdapat kuasa leluhur yang masih turut berpartisipasi dalam kelestarian mata air Sonbilo dan bisa kapan saja memberi peringatan akan perbuatan jemaat yang salah dalam bentuk hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan mengacu pada hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah agar jemaat GMIT O'emathonis Tubu Mnanu dapat mengoreksi kembali tentang pemahaman yang benar terhadap air yang bernilai intrinsik dalam perspketif ekoteologi yang melihat alam sebagai rumah (Yun.:oikos) yang diberikan Tuhan, air bernilai intrinsic bukan karena kuasa leluhur melainkan semata-mata hanya karena kuasa Allah. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan berdasar pada teori Emanuel Gerrit Singgih yaitu etika sakralitas air agar mendapatkan hasil kajian yang jelas tentang air yang bersifat sakral dan bernilai intrinsik. Penulis berharap tulisan ini dapat memberikan sumbangsih bagi pemahaman jemaat GMIT O'emathonis Tubu Mnanu dalam memaknai kesakralan air Sonbilo dan nilai-nilai intrinsik yang terkandung dalam air tersebut.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelayanan Anak, Remaja dan Taruna (PART) merupakan salah satu bentuk pelayanan gereja yang strategis dalam menanamkan iman dan membentuk karakter anak sebagai generasi penerus gereja. Namun, dalam realitas pelayanan PART di Jemaat GMIT Sebiji Sesawi Maipui, Klasis Alor Tengah Utara, masih dijumpai berbagai persoalan yang berkaitan dengan kapasitas pengajaran tenaga pengajar PART. Persoalan tersebut tampak dalam keterbatasan kompetensi pedagogis, penggunaan metode pengajaran yang kurang variatif, minimnya bahan ajar, serta rendahnya dukungan struktural gereja terhadap pembinaan pengajar PART. Kondisi ini berdampak pada rendahnya partisipasi, minat, dan pemahaman iman anak-anak dalam kegiatan PART.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan realitas kapasitas pengajaran tenaga pengajar PART di Jemaat GMIT Sebiji Sesawi Maipui serta meninjaunya dari perspektif teologi Kristen, khususnya dalam kerangka Pendidikan Agama Kristen (PAK). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan reflektif-teologis. Data diperoleh melalui studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara dengan pendeta, majelis jemaat, pengajar PART, serta orang tua anak PART.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas pengajaran tenaga pengajar PART masih berada pada tingkat yang terbatas, baik dari aspek pedagogis, metodologis, maupun dukungan kelembagaan gereja. Dalam tinjauan teologis, gereja dipahami memiliki tanggung jawab iman untuk membina dan memperlengkapi para pengajar PART sebagai pelayan pendidikan iman anak. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas pengajaran PART perlu dipahami sebagai panggilan teologis gereja dalam melaksanakan tugas mendidik generasi iman secara berkelanjutan.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berangkat dari adanya ketegangan pemahaman di tengah jemaat
GMIT Ebenhaizer Haumolo mengenai tradisi mamat (makan sirih pinang).
Sebagian jemaat memandang mamat sebagai praktik budaya semata, sedangkan
sebagian lainnya mempertanyakan relevansinya bagi kehidupan iman Kristen.
Pokok persoalan inilah yang kemudian melahirkan kebutuhan untuk menelaah
tradisi mamat secara teologis, khususnya bagaimana tradisi tersebut dapat
dipahami an dimaknai dalam terang Injil serta kehidupan bergereja.
Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai-nilai teologis yang terkandung
dalam tradisi mamat serta menjelaskan bagaimana praktik budaya tersebut dapat
menjadi sarana membangun keramahtamahan, mempererat persekutuan,
memulihkan relasi, membentuk iman generasi muda, dan menghadirkan kesaksian
gereja di tengah masyarakat. Tujuan lainnya adalah membantu jemaat melihat
bahwa tradisi mamat tidak harus dipertentangkan dengan iman Kristen, melainkan
dapat menjadi bagian dari spiritualitas yang membumi dan relevan bagi kehidupan
umat.
Pendekatan yang digunakan adalah teologi kontekstual dengan metode
kualitatif, melalui analisis literatur, pengamatan terhadap praktik mamat dalam
kehidupan jemaat, serta refleksi teologis berdasarkan narasi Alkitab dan
pemikiran teolog Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menangkap
makna teologis tradisi mamat secara menyeluruh, tidak hanya sebagai adat
istiadat, tetapi sebagai ruang hidup yang mempengaruhi pembentukan relasi,
iman, dan identitas jemaat.
Temuan utama menunjukkan bahwa tradisi mamat mengandung nilai-nilai
kristiani yang kuat, seperti penerimaan, kesetaraan, keramahtamahan, rekonsiliasi,
pembinaan iman, dan kesaksian gereja. Tradisi ini mampu menjadi ruang
perjumpaan yang menghadirkan kasih Allah dan memperkaya spiritualitas jemaat.
Dengan demikian, mamat tidak hanya layak dipertahankan sebagai identitas
budaya, tetapi juga dapat diintegrasikan sebagai bagian dari praksis iman Kristen
yang kontekstual dan membangun kehidupan jemaat secara holistik.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Tradisi uri lii-langu merupakan salah satu bentuk warisan budaya dari para nenek
moyang masyarakat pulau Ndao yang berfungsi sebagai mekanisme penyelesaian
masalah dalam kehidupan sosial, keluarga dan komunitas. Tradisi ini menekankan
dialog, pengakuan kesalahan, tanggung jawab moral, serta pemulihan relasi
sebagai tujuan utama dalam menyelesaikan masalah. Akan tetapi, dalam konteks
kehidupan gereja, tradisi ini belum sepenuhnya dimaknai. Karena menganggap
bahwa tidak ada keadilan jika menyelesaikan masalah dengan tradisi ini. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tradisi uri lii-langu dalam
perspektif teologi kontekstual, khususnya menggunakan model antropologis
Stephen B. Bevans, guna menggali makna teologis yang terkandung di dalamnya
serta implikasinya bagi kehidupan gereja dan jemaat. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tradisi uri lii-langu mengandung nilai-nilai yang sejalan
dengan iman Kristen, seperti rekonsiliasi, pengampunan, keadilan dan pemulihan
relasi. Nilai-nilai ini dapat dipahami sebagai Injil yang menunjukkan bahwa Allah telah bekerja dalam kebudayaan. Perlu juga untuk ditafsir tradisi ini secara teologis agar tidak terjebak pada romantisasi budaya, tetapi tetap berorientasi pada
keadilan, kasih dan pertobatan yang sejati. Tradisi ini merupakan kekayaan
budaya yang memiliki nilai teologis untuk memperkaya pelayanan gereja dan
kehidupan jemaat. Melalui pendekatan teologi kontekstual, gereja dipanggil untuk
berdialog secara kritis dan kreatif terhadap tradisi ini sehingga nilai-nilai adat dan
iman Kristen dapat saling memperdalam dalam membangun kehidupan bersama
yang damai dan utuh.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Tradisi neto’u lima (jabat tangan) merupakan praktik budaya masyarakat Rote yang berfungsi sebagai sarana perdamaian. Tradisi ini tetap dilestarikan oleh Jemaat GMIT Imanuel Koli, Klasis Rote Barat Laut, bahkan setelah kekristenan hadir dan berkembang. Fokus penelitian ini adalah: bagaimana gambaran umum jemaat GMIT Imanuel Koli, bagaimana pemahaman jemaat terhadap tradisi neto’u lima, serta bagaimana refleksi teologis terhadap pemahaman jemaat tentang tradisi neto’u lima dan dapat mengimpilkasikannya bagi pelayanan gereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konteks sosial, budaya, dan keagamaan jemaat GMIT Imanuel Koli, mengungkap pemahaman jemaat mengenai tradisi neto’u lima sebagai tanda perdamaian, dan merumuskan refleksi teologis yang menempatkan tradisi ini sebagai bagian dari pelayanan dalam gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan lapangan, melalui observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis-reflektif, sehingga data empiris dapat ditafsirkan dalam kerangka teologis. Temuan utama menunjukkan bahwa tradisi neto’u lima dipahami jemaat sebagai simbol perdamaian yang menyatukan nilai adat dan iman Kristen. Jabat tangan menjadi tanda niat baik, doa bersama menegaskan dimensi spiritual, dan keterlibatan tokoh adat serta gereja memperkuat legitimasi sosial. Tradisi ini sejalan dengan ajaran Kristus tentang perdamaian bagi semua umat, sehingga dapat dipandang sebagai modal sosial dan teologis yang dapat diimplikasikannya bagi pelayanan dalam gereja juga masyarakat. Tesis penelitian menegaskan bahwa neto’u lima bukan sekadar warisan budaya, melainkan praktik perdamaian yang memperkaya kehidupan jemaat dan memperkuat peran gereja dalam membangun kasih persaudaraan dan perdamaian.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini menelaah spiritualitas generasi sandwich di Jemaat GMIT Sesawi Oepura serta implikasinya bagi pelayanan gereja melalui tinjauan teologis. Generasi sandwich dipahami sebagai individu usia produktif yang memikul tanggung jawab ganda secara simultan dan berkelanjutan: menopang orang tua lanjut usia sekaligus anak/adik/kerabat yang belum mandiri, sehingga rentan mengalami tekanan ekonomi, kelelahan fisik, dan beban emosional yang dapat memengaruhi kehidupan iman. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana warga jemaat memaknai pergumulan tersebut sebagai pengalaman spiritual, bukan semata persoalan sosial-ekonomi. Penelitian menggunakan metode kualitatif lapangan dengan teknik wawancara semi-terstruktur dan studi dokumen. Partisipan dipilih secara purposive (usia 25–45 tahun, bekerja, memiliki tanggungan lintas generasi, dan merupakan anggota Jemaat GMIT Sesawi Oepura). Analisis menggunakan kerangka spiritualitas Sandra M. Schneiders yang menekankan integrasi dimensi personal-internal, relasional-komunal, praksis keseharian, dan hermeneutik pemaknaan pengalaman. Hasil menunjukkan bahwa spiritualitas generasi sandwich di jemaat ini cenderung berwujud sebagai “spiritualitas resiliensi”: iman yang bertahan di tengah keterbatasan, tampil dalam kesetiaan menjalankan tanggung jawab, doa yang lahir dari situasi krisis, serta pengharapan akan penyertaan Allah meski disertai keluhan, rasa bersalah, bahkan kemarahan kepada Tuhan. Gereja dipandang membantu melalui ibadah rumah tangga dan diakonia, namun dibutuhkan pendampingan pastoral yang lebih peka terhadap ritme kerja, beban psikospiritual, dan kebutuhan batasan diri. Penelitian ini merekomendasikan penguatan komunitas dukungan, konseling pastoral kontekstual, dan praksis gerejawi yang mengafirmasi pengalaman generasi sandwich sebagai ruang perjumpaan dengan Allah.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi konsep relasi dialogis Ich und Du Martin Buber terhadap konteks kekerasan dalam kehidupan jemaat GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) Imanuel Olalain. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dan konflik relasional masih terjadi dalam kehidupan jemaat, yang menunjukkan adanya krisis dalam kualitas relasi antarmanusia. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan wawancara dan refleksi teologis, penelitian ini menemukan bahwa banyak relasi suami-istri dalam jemaat masih dibangun dalam pola dominatif, hierarkis, dan minim dialog, sehingga lebih menyerupai pola relasi Ich-Es (Aku-Itu) daripada Ich-Du (Aku-Engkau). Selain faktor personal, kekerasan juga dipengaruhi oleh faktor kultural, struktural, dan pemahaman teologis yang belum sepenuhnya menekankan kesetaraan martabat manusia. Iman Kristen yang diakui jemaat sering kali belum terintegrasi dalam praktik relasi sehari-hari, sehingga relasi dengan Tuhan tidak selalu tercermin dalam relasi dengan pasangan. Dalam terang pemikiran Martin Buber, relasi yang sehat hanya mungkin terwujud melalui perjumpaan dialogis yang mengakui keutuhan dan martabat pribadi sebagai subjek, bukan objek. Penelitian ini juga menegaskan bahwa kekerasan merupakan pelanggaran terhadap martabat manusia sebagai gambar Allah (Imago Dei). Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk membangun spiritualitas relasional yang transformatif, memperbarui pola komunikasi, serta menghadirkan struktur persekutuan yang partisipatif dan adil. Konsep Ich-Du menjadi kerangka teologis yang relevan untuk pemulihan relasi, pencegahan kekerasan, dan pembentukan kehidupan jemaat yang lebih dialogis, manusiawi, dan mencerminkan kasih Allah.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berangkat dari persoalan rendahnya partisipasi jemaat dalam pelayanan di Jemaat GMIT Dale Sue Kenamoen, Klasis Rote Timur, yang berkaitan erat dengan pola relasi dalam struktur organisasi majelis jemaat serta iklim pelayanan yang terbentuk. Dalam konteks sosial pedesaan dengan karakter komunikasi yang terbuka dan keras, muncul dominasi pihak tertentu dalam kepemimpinan, sikap otoriter dalam komunikasi, serta kecenderungan jemaat untuk bersikap pasif dan enggan menyampaikan pendapat dalam forum gerejawi. Situasi ini bertentangan dengan tujuan pembangunan jemaat yang partisipatif dan prinsip penataan organisasi GMIT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konteks sosial-budaya dan organisatoris Jemaat GMIT Dale Sue Kenamoen, menganalisis struktur organisasi serta dampak relasi dalam majelis jemaat terhadap iklim pelayanan dan partisipasi warga jemaat, serta merumuskan refleksi teologis pembangunan jemaat terhadap realitas tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap sejumlah informan yang terdiri dari pendeta, majelis jemaat, dan anggota jemaat, serta didukung dengan dokumen gerejawi. Validitas data dibuktikan melalui triangulasi sumber dan analisis tematik berdasarkan tahapan dalam pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur organisasi yang secara formal bersifat partisipatif dalam praktiknya dipengaruhi oleh relasi yang timpang, komunikasi yang keras, serta pemutlakan tipe relasi tertentu sebagaimana dikritisi dalam teori Jan Hendriks. Kondisi ini membentuk iklim pelayanan yang kurang dialogis, menghambat keterlibatan jemaat, serta melemahkan vitalitas pelayanan gereja. Penelitian ini menegaskan bahwa pembangunan jemaat yang sehat menuntut penataan struktur dan iklim pelayanan yang menempatkan jemaat sebagai subjek, mengembangkan kepemimpinan yang kolaboratif, serta membuka ruang partisipasi sebagai wujud karya Allah dalam membangun gereja.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji praktik panen padi di Jemaat GMIT Imanuel Manefu sebagai ruang
hidup teologis yang mengintegrasikan tradisi budaya lokal dengan iman Kristen. Praktik
panen padi tidak semata-mata dipahami sebagai aktivitas agraris, melainkan sebagai praktik
komunal dan spiritual yang berfungsi membentuk identitas, relasi sosial, serta penghayatan
iman jemaat secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
perkembangan praktik panen padi dari masa sebelum Kristen, masa sesudah Kristen, hingga
masa kini, sekaligus menganalisis nilai, makna, dan tema teologis yang terkandung di
dalamnya. Penelitian ini juga menelaah implikasi praktik tersebut bagi persekutuan Jemaat
GMIT Imanuel Manefu, terutama dalam menghadapi tantangan relasi persaudaraan akibat
konflik sosial, seperti perebutan tanah warisan. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif
dengan metode deskriptif-analitis, menggunakan wawancara mendalam dan studi pustaka
sebagai sumber data utama, kemudian dianalisis melalui kerangka Teologi Kontekstual
Model Sintesis karya Stephen B. Bevans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik panen
padi di Manefu mengalami transformasi dalam bentuk kerja dan teknis pelaksanaan akibat
pengaruh modernisasi yang bisa saja menggeser nilai-nilai inti Kristen yang terkandung
dalam praktik tersebut seperti nilai persekutuan, kasih, persaudaraan, gotong royong, dan
pemberian diri tanpa pamrih tetap terpelihara. Praktik panen padi dimaknai sebagai ritus
syukur kepada Tuhan, peneguh identitas budaya jemaat, sarana penguatan relasi sosial, dan
media pembentukan etos kerja yang bertanggung jawab. Refleksi teologis menegaskan bahwa
praktik panen padi merupakan wujud teologi hidup yang kontekstual, di mana kerja dipahami
sebagai bentuk ibadah, tanah sebagai anugerah Tuhan, dan tindakan berbagi sebagai
kesaksian iman. Dalam konteks konflik warisan yang mengancam persatuan jemaat, praktik
panen padi berpotensi menjadi ruang rekonsiliatif sekaligus pedagogi iman yang meneguhkan
persekutuan sebagai tubuh Kristus. Oleh karena itu, pemeliharaan dan pengembangan praktik
ini menjadi penting sebagai media pewartaan Injil dan pembentukan spiritualitas komunal
jemaat di tengah dinamika sosial dan perubahan zaman
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gereja dalam pelayanan pastoral memiliki panggilan untuk melaksanakan tugas penggembalaan dengan merawat, melindungi, memelihara, serta menolong umat sebagai domba-domba Allah. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, gereja tidak terlepas dari berbagai persoalan umat, salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga yang berdampak serius bagi anak-anak sebagai saksi. Pengalaman menyaksikan kekerasan seringkali meninggalkan trauma psikologis yang mengganggu rasa aman dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum lokasi penelitian di Jemaat GMIT Sono, mengkaji upaya gereja dalam penyembuhan trauma anak-anak usia 5–12 tahun yang menyaksikan kekerasan, serta menganalisis upaya tersebut dalam tinjauan teologi pastoral.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan dan studi literatur. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Mata Jemaat Sion Oepuah terdapat anak-anak usia 5–12 tahun yang mengalami trauma psikologis, ditandai dengan gejala ketakutan, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, dan keinginan untuk membalas dendam. Upaya gereja dalam pendampingan trauma masih bersifat umum dan belum menyentuh kebutuhan emosional anak secara khusus. Dalam tinjauan teologi pastoral, gereja dipahami sebagai komunitas penyembuhan (healing community) yang menghadirkan ruang aman bagi umat. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk berperan lebih aktif, terstruktur, dan berkelanjutan dalam pendampingan pastoral guna menolong anak-anak mengalami pemulihan dan keutuhan hidup.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pembangunan jemaat merupakan bagian integral dari panggilan gereja untuk menumbuhkan kehidupan iman yang dewasa, partisipatif, dan kontekstual, namun dalam praktiknya sering kali masih berangkat dari pendekatan yang menekankan persoalan dan kekurangan sehingga potensi jemaat kurang dioptimalkan secara maksimal. Kondisi ini juga tampak dalam kehidupan Jemaat GMIT Hosana Hane yang sesungguhnya memiliki kekayaan potensi sosial, ekonomi, dan budaya, tetapi belum sepenuhnya dikembangkan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini berangkat dari persoalan mengenai bagaimana konteks sosial-ekonomi jemaat melatarbelakangi praktik kemitraan dengan komunitas Prosi, bagaimana praktik kemitraan tersebut dipahami dalam kerangka pembangunan jemaat berbasis Appreciative Inquiry, serta bagaimana kemitraan itu direfleksikan secara teologis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks kehidupan Jemaat GMIT Hosana Hane, menganalisis praktik kemitraan gereja dengan komunitas Prosi sebagai bagian dari pembangunan jemaat berbasis Appreciative Inquiry, serta merefleksikannya secara teologis dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen, yang dianalisis secara deskriptif-analitis dan refleksi teologis berdasarkan teori pembangunan jemaat Jan Hendriks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemitraan antara GMIT Hosana Hane dan komunitas Prosi menjadi sarana pembangunan jemaat yang bersifat partisipatif dan transformatif, di mana pendekatan Appreciative Inquiry menolong jemaat untuk mengenali serta mengembangkan potensi yang telah dimiliki sebagai aset pembangunan, sehingga jemaat semakin diposisikan sebagai subjek yang berdaya dalam membangun kehidupan iman, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penulisan ini mengkaji praktik dansa kizomba yang dilakukan oleh pemuda-pemudi GMIT Siloam Oelbioin. Pokok persoalan penelitian ini adalah adanya keresahan karena praktik dansa kizomba dengan sentuhan fisik yang berlebihan dengan lawan jenis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks jemaat, menganalisis praktik dansa kizomba, serta memberikan refleksi etis teologis terhadap praktik tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analisis, data yang dikumpulkan melalui wawancara dengan beberapa narasumber serta dianalisis menggunakan teori etika deontologi Immanuel Kant dan konsep kekudusan hidup dalam perspektif alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik dansa kizomba di kalangan pemuda-pemudi ditandai dengan kedekatan fisik yang sangat intim, sentuhan pada area tubuh privat dan perilaku seperti berciuman di depan umum sehingga praktik ini sering memicu terjadinya konflik dan dinilai melanggar prinsip kekudusan hidup kristen. Berdasarkan analisis deontologi, tindakan ini dinilai tidak bermoral karena melanggar kewajiban universal untuk menghormati martabat manusia dan kekudusan hidup.
Kata Kunci: Dansa kizomba, Etika deontologi Immanuel Kant, kekudusan hidup
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pembentukan karakter anak pada usia Golden Age (0-6 tahun) merupakan tahap
yang sangat menentukan bagi perkembangan kepribadian dan iman anak di masa
depan. Dalam iman Kristen, orang tua dipahami sebagai pendidik iman pertama
dan utama bagi anak. Namun, realitas kehidupan keluarga masa kini menunjukkan
adanya berbagai tantangan yang menyebabkan peran orang tua dalam
pembentukan karakter anak belum berjalan secara optimal. Berdasarkan konteks
tersebut, penelitian ini berfokus pada persoalan bagaimana peran orang tua dalam
pembentukan karakter anak Golden Age di Jemaat GMIT Batu Karang
Nonohonis, serta bagaimana gereja berperan sebagai mitra keluarga dalam
mendukung proses tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis
peran orang tua dalam pembentukan karakter anak Golden Age berdasarkan
perspektif Pendidikan Agama Kristen, mengidentifikasi realitas praktik
pengasuhan yang terjadi di jemaat, serta merumuskan refleksi teologis dan
implikasi praktis bagi orang tua dan gereja. Penelitian ini juga bertujuan
menegaskan kembali pentingnya sinergi antara keluarga dan gereja dalam
pembinaan iman dan karakter anak sejak usia dini. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif-analitis-refleksi. Data
diperoleh melalui wawancara dengan orang tua, guru Sekolah Minggu, guru
PAUD, dan pengajar program pelayanan anak, serta melalui observasi dan studi
kepustakaan yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Kristen. Analisis data
dilakukan dengan mengaitkan temuan lapangan dengan landasan teologis Alkitab
dan teori Pendidikan Agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar orang tua menyadari pentingnya pembentukan karakter anak sejak
usia dini, namun keterbatasan waktu, pemahaman yang belum utuh tentang
Golden Age, serta kesibukan pekerjaan menyebabkan pembentukan karakter anak
belum dilakukan secara konsisten. Gereja telah menjalankan pelayanan anak,
tetapi belum sepenuhnya didukung oleh keterlibatan aktif orang tua. Penelitian ini
menegaskan bahwa pembentukan karakter anak Golden Age akan berjalan lebih
efektif apabila orang tua menjalankan perannya sebagai pendidik iman utama dan
gereja hadir sebagai mitra yang mendampingi keluarga secara berkelanjutan.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertolak dari realitas kehidupan masyarakat Ladon, Klasis Alor Barat Laut, yang hidup dalam konteks keberagaman agama, khususnya relasi antara umat Kristen dan Islam. Di tengah pluralitas tersebut, masyarakat menghidupi nilai budaya lokal Tena’El yang dimaknai sebagai persaudaraan, persahabatan, dan kebersamaan lintas iman. Pokok persoalan dalam penelitian ini adalah bagaimana konteks wilayah dan jemaat GMIT Tena’El Ladon membentuk relasi Islam-Kristen, bagaimana makna dan nilai Tena’El dipahami serta dipraktikkan dalam kehidupan sosial-keagamaan, dan bagaimana nilai tersebut ditinjau secara teologis dalam terang Injil dengan menggunakan perspektif pluralisme agama menurut Paul F. Knitter. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis makna Tena’El sebagai identitas lokal yang berperan dalam membangun relasi persaudaraan antara umat Kristen dan Islam, mengkaji praktik hidup bersama dalam keberagaman melalui pendekatan teologi agama-agama, serta menafsirkan nilai Tena’El sebagai bagian dari kesaksian iman Kristen yang kontekstual dan dialogis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologi agama-agama. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan warga jemaat, tokoh gereja, tokoh masyarakat, serta umat Islam, observasi lapangan, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan menafsirkan temuan penelitian dalam kerangka pluralisme agama Paul Knitter dan teologi kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tena’El berfungsi sebagai modal sosial dan teologis yang memperkuat relasi persaudaraan Islam–Kristen di Ladon. Nilai ini tidak bertentangan dengan iman Kristen, melainkan sejalan dengan Injil yang menekankan kasih, penghargaan terhadap martabat manusia, dan hidup berdampingan secara damai. Tena’El menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan gereja hadir sebagai agen perdamaian dan memperteguh kesaksian iman di tengah masyarakat plural.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berangkat dari realitas umat Kristen di Surat Roma yang hidup dalam disharmonisasi, di mana ada pertikaian dari dalam komunitas jemaat sendiri dan juga dengan pemerintahan Roma. Pokok persoalan yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana kerygma teologis Roma 12:17–21 dipahami dalam konteks historis dan teologisnya, serta bagaimana pesan tersebut relevan bagi respons umat Kristen terhadap realitas intoleransi pada masa kini. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji secara mendalam latar belakang dan isi pewartaan teologis Roma 12:17–21, menggali makna kerygma yang terkandung di dalamnya, serta merefleksikan implikasinya bagi kehidupan umat Kristen Indonesia dalam menghadapi pengalaman diskriminasi dan pembatasan kebebasan beragama. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan tafsir historis-kritis, melalui analisis teks Alkitab, konteks jemaat Roma, struktur literer perikop, serta makna kata-kata kunci dalam bahasa Yunani, dengan memanfaatkan sumber-sumber Alkitab, tafsiran, leksikon, dan literatur teologis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Roma 12:17–21 memuat kerygma tentang panggilan umat percaya untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, menyerahkan pembalasan kepada Allah, mengupayakan hidup dalam damai sejauh hal itu bergantung pada diri sendiri, serta mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Kerygma ini menegaskan bahwa respons orang percaya terhadap ketidakadilan dan penderitaan harus berakar pada kasih Kristus dan kepercayaan kepada keadilan Allah, sehingga dalam konteks intoleransi di Indonesia, umat Kristen diarahkan untuk tetap setia pada iman, membangun sikap rekonsiliatif dalam relasi sosial, dan memperjuangkan martabat manusia tanpa terjebak dalam lingkaran kebencian dan pembalasan.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas spiritualitas belas kasih Yesus dengan kajian historis kritis terhadap Yohanes 8:1-11 dan implikasinya bagi Jemaat GMIT Bet’el Oesapa Tengah. Kajian ini berangkat dari teks Alkitab, dengan pendekatan historis-kritis untuk menelaah sikap dan praktik komunitas Kristen awal terkait isu moral dan sosial. Fenomena yang diamati dalam teks Alkitab, seperti perlakuan terhadap perempuan dan sikap terhadap pelanggaran praktik seksual, menjadi fokus analisis untuk memahami bagaimana prinsip etis dan relasi sosial dibangun dalam konteks kehidupan berjemaat pada masa itu. Penelitian ini memfokuskan pada penafsiran Alkitab sebagai kontribusi teologis bagi kehidupan spiritualitas jemaat sebagaimana spiritualitas belas kasih itu dihidupi oleh Yesus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji konteks historis Yohanes 8:1-11, mengidentifikasi kerygma teologis yang terkandung di dalam teks tersebut, serta merumuskan implikasinya bagi kehidupan di GMIT Jemaat Bet’el Oesapa Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Penafsiran teks dilakukan melalui tafsir historis teks terhadap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yohanes 8:1-11 berada dalam konteks di mana perempuan serta orang berdosa dijadikan sebagai orang-orang yang rentan, terpinggirkan, dikucilkan dalam konteks Yahudi pada masa itu. Bertolak dari keadaan yang demikian dalam kehidupan pelayanan-Nya Yesus menunjukan spiritualitas belas kasih sebagai representasi bahwa Allah mengasihi semua orang. Mereka yang tidak dikasihi, yang dipakai sebagai alat dan bukan sebagai pribadi, golongan orang yang tidak berharga dan tidak berarti bagi masyarakat lain dipandang dengan belas kasih yang radikal. Spiritualitas Yesus bukan spiritualitas yang menjauh demi menjaga kemurnian moral, melainkan spiritualitas inkarnasional yang mendekat, tinggal, dan menyertai mereka yang terpinggirkan. Implikasi teologis Yohanes 8:1-11 bagi GMIT Jemaat Bet’el Oesapa Tengah terletak pada panggilan untuk menghidupi Spiritualitas belas kasih yang Yesus hidupi selama Pelayanan-Nya. Jemaat dipanggil untuk untuk memelihara relasi yang intim dengan Allah, selain itu sebagaimana Yesus membongkar kekerasan religius dan budaya stigma, jemaat dipanggil untuk tidak menghidupi lagi budaya stigma yang telah mengakar itu dan spiritualitas belas kasih itu mentransformasi kehidupan baik yang tertuduh maupun para penuduh.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perkembangan teknologi digital membawa dampak yang signifikan bagi kehidupan remaja, khususnya dalam proses pencarian identitas diri. Remaja hidup di tengah arus informasi yang cepat, budaya media sosial, dan tuntutan untuk membangun citra diri yang ideal, sehingga sering kali mengalami kebingungan identitas, tekanan psikologis, serta ketergantungan pada pengakuan eksternal. Kondisi ini juga dialami oleh remaja di Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana remaja mencari dan membentuk identitas diri di era digital, serta bagaimana gereja berperan dalam mendampingi proses tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika pencarian identitas diri remaja pada era digital dan merumuskan bagaimana remaja dapat memahami dan mencari identitas diri pada era digital saat ini dengan baik, penelitian ini juga ingin menegaskan peran gereja sebagai komunitas iman yang aman, menerima, dan mendampingi remaja dalam pergumulan hidup mereka, sehingga remaja dapat membangun identitas diri yang berakar pada iman Kristen. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskpsi-analisis-reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi. Kajian ini memanfaatkan teori perkembangan remaja, refleksi teologis berdasarkan Alkitab, serta pemikiran Andrew Root tentang pelayanan remaja yang berpusat pada relasi dan pengalaman hidup sebagai ruang perjumpaan dengan Allah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas diri remaja di era digital cenderung rapuh apabila dibangun di atas standar budaya digital seperti popularitas dan citra diri. Oleh karena itu, gereja memiliki peran penting untuk menghadirkan pendidikan agama kristen yang berpusat pada relasi, pendampingan yang setia, dan komunitas yang menerima remaja apa adanya. Bagi Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan, implikasi pendidikan agama Kristen ini menegaskan bahwa gereja perlu menjadi ruang aman yang menolong remaja memahami dan menemukan identitas diri mereka sebagai pribadi yang dikenal, dikasihi, dan dipanggil Allah di tengah tantangan era digital.
Kata Kunci: Remaja, Identitas diri, Era digital, Pelayanan Pastoral, GMIT Gunung Sinai Naikolan
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK PENGEMBANGAN TEH CELUP DAUN KELOR JAHE SEBAGAI MINUMAN KESEHATAN Maus, S.F)* Ballo.A)** Ledo, S.E.M)** Teh adalah minuman yang sangat umum dalam kehidupan kita sehari-hari. Kebiasaan minum teh sudah dikenal tidak hanya di Indonesia tetapi hampir di seluruh dunia. teh memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Senyawa dalam teh dapat menyembuhkan beberapa penyakit ringan dan mencegah timbulnya beberapa penyakit serius. Tujuan penelitian iniuntuk mengetahui pH, uji tingkat kesukaan konsumen dari parameter organoleptik aroma, rasa dan warna dan kadar air dan kadar abu pada pembuatan teh celup berbahan dasar kelor dengan variasi konsentrasi jahe. Penelitian ini dilakukan diLaboratorium Pendidikan Biologi UKAW kupang dan diLaboratorium Kimia Universitas Nusa Cendana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan ( 3 pengulangan). Perbandingan daun kelor dan jahe dengan variasi perlakuan meliputi: (P0) 100 % : 0%, ( P1) 90 % : 10 %, ( P2 ) 80 % : 20 %, ( P3) 70 % : 30 %. Parameter yang diuji yaitu pH dengan nilai tertinggi pada P3: 5,52% dan terendah P1: 5,22%, uji organoleptik yang meliputi parameter aroma di perolehF hitung 7,316,df=3, dan nilai P 0,000 0,005, rasa di peroleh F hitung 17,786, df=3, dengan nilai P 0,000 0,005, warna diperoleh F hitung 4,626, df=3, dengan nilai P 0.005, dan uji proksimat meliputi kadar air dan kadar abu. Berdasarkan hasil uji ANOVA didapatkan Hasil Uji proksimat untuk mengukur kandungan gizi teh celup kelor jahe kadar air tertinggi pada perlakuan P1 sebesar 35% kadar abu tertinggi pada perlakuan P2 sebesar 83%. Kata Kunci: Teh celup kelor jahe merah,pH,organoleptik dan proksimat. Keterangan: *) Peneliti **)Pembimbing ABSTRACT DEVELOPMENT OF GINGER MORINGA TEABAGS AS A HEALTH DRINK Maus, S.F)* Ballo.A)** Ledo, S.E.M)** Tea is a very common drink in our daily life. The habit of drinking tea is known not only in Indonesia but almost throughout the world. Tea has many health benefits. The compounds in tea can cure several minor illnesses and prevent the onset of several serious illnesses. The aim of this research is to determine the pH, test the level of consumer preference from the organoleptic parameters of aroma, taste and color and water content and ash content in making moringa-based tea bags with variations in ginger concentration. This research was conducted at the UKAW Kupang Biology Education Laboratory and at the Chemistry Laboratory at Nusa Cendana University. The method used in this research was an experimental method using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments (3 repetitions). The comparison of Moringa leaves and ginger with various treatments includes: (P0) 100 % : 0%, (P1) 90 % : 10 %, (P2) 80 % : 20 %, (P3) 70 % : 30 %. The parameters tested were pH with the highest value at P3: 5.52% and the lowest at P1: 5.22%, the organoleptic test which included aroma parameters was obtained F hitung 7.316, df = 3, and P value of 0.000 0.005, taste was obtained F hitung 17.786, df = 3, with P value of 0.000 0.005, color was obtained F hitung 4.626, df=3, with P value of 0.005, and proximate tests include water content and ash content. Based on the results of the ANOVA test, proximate test results were obtained to measure the nutritional content of ginger moringa tea bags, the highest water content in treatment P1 was 35%, the highest ash content in treatment P2 was 83%. Keywords: Red ginger Moringa tea bags, pH, organoleptic and proximate. Information: *) Researcher **)Advisor