Profil penulis
M.
2.943 karya publik ditemukan.
Christ in the East Syriac Tradition
An Introduction to Language
Assuming no prior knowledge of linguistics, AN INTRODUCTION TO LANGUAGE, Tenth Edition, is appropriate for a variety of fields--including education, languages, psychology, cognitive science, anthropology, English, and teaching English as a Second Language (TESL)--at both the undergraduate and graduate levels. This completely updated edition retains the clear descriptions, humor, and seamless pedagogy that have made the book a perennial best-seller, while adding new information and exercises that render each topic fresh, engaging, and current. Important Notice: Media content referenced within the product description or the product text may not be available in the ebook version.
An Introduction to Language
An Introduction to Language continues to be instrumental in introducing students to the fascinating study of human language. Engaging and clearly written, it provides an overview of the key areas of linguistics from an Australian perspective. Chapters in this seventh edition have been extensively updated and revised to reflect recent discoveries and new understandings in linguistics and language. Additional exercises at the end of chapters and a companion website help readers to test their comprehension of the material and practice their skills. This classic text is suitable for students in fields as diverse as linguistics, computer science, English, communication studies, anthropology, foreign language teaching and speech pathology.
An Introduction to Language
AN INTRODUCTION TO LANGUAGE, 11th Edition, offers an up-to-date look at language studies and linguistics in today's world. This product is fresh and modern, and includes new developments in linguistics and related fields that strengthen its appeal to a wider audience. At the same time, it maintains the acclaimed light, friendly, readable style and the breadth of coverage that have made it a perennial best seller. The authors examine grammatical subjects (e.g., morphology, syntax, semantics, phonetics, phonology), childhood language development and adult secondary language acquisition, and the tremendous leap in knowledge achieved in neurolinguistics. Important Notice: Media content referenced within the product description or the product text may not be available in the ebook version.
ANALISIS PENERAPAN AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 ATAS GAJI PEGAWAI PT. ROTENDO PERMAI
Berdasarkan Hasil Analisis diperoleh bahwa PT. Rotendo Permai telah menerapkan perhitungan pajak penghasilan PPh pasal 21 sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Perpajakan No. 36 Tahun 2008 yang berlaku namun perlu adanya rincian perhitungan PPh Pasal 21 dari PT. Rotendo Permai kepada pegawai untuk mengetahui penghitungan, pemotongan, pembayaran dan pencatatan akuntansi yang berlaku sesuai PPh Pasal 21. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan pajak penghasilan pasal 21 pada PT. Rotendo Permai sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, hal ini sejalan dengan peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia sesuai peraturan perundang-undangan No. 36 tahun 2008. Kata kunci; Akuntansi pajak, Pajak penghasilan pasal 21
Kajian kinerja kelembagaan P3A di daerah irigasi Pumang Desa Tanglapui Kec.Alor Timur Kab.Alor
ABSTRAK KAJIAN KINERJA KELEMBAGAAN P3A DI DAERA IRIGASI PUMANG DESA TANGLAPUI KECAMATAN ALOR TIMUR KABUPATEN ALOR Mokoni S. Y *) N.P.P.E. Nainiti **) Makaborang M***) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja kelembagaan P3A daerah Irigasi Pumang, Desa Tanglapui, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bertujuan untuk pemecahan masalah dengan cara mengumpulkan data pada daerah irigasi Pumang Desa Tanglapui. Hasil pengamatan kinerja kelembagaan P3A dengan adanya Organisasi Perkumpulan Petani Pemakai Air dapat Terorganisir dengan baik dalam upaya Memenuhi Kebutuhan Air ke Lahan. Menjaga Saluran Irigasi pelaksanaan Pemeliharaan Saluran Irigasi dan Organisasi Personalia di P3A di Derah Irigasi Pumang. Sehingga terdapat 6 responden yang menyatakan Sangat Baik dengan presentase 30 %, sedangkan petani yang menyatakan Baik terdapat 9 responden dengan presentase 45% dan petani yang menyatakan Kurang Baik terdapat 5 responden dengan presentase 25 %. Maka dari itu penulis menyimpulkan bahwa Kinerja Kelembagaan P3A di Daerah Irigasi Pumang tergolong Baik. Sementara untuk struktur organisasi menunjukan bahwa ada pula aset organisasi belum dimaksimalkan dengan baik. Kata kunci: Kinerja, Kelembagaan P3A Daerah Irigasi Pumang. *) Peneliti **) Pembimbing I ***) Pembimbing II
Pengaruh jenis tanah yang berbeda terhadap produktifitas tanaman sawi hitau dengan mengunakan sistim irigasi tetes
ABSTRAK PENGARUH JENIS TANAH YANG BERBEDA TERHADAP PRODUKTIFITAS TANAMAN SAWI HIJAU DENGAN MENGUNAKAN SISTIM IRIGASI TETES Asakameng, F. A*) Nainiti, N. P.P.E. **) Makaborang, M***) Penelitian mengenai pertumbuhan dan produksi tanaman sawi hijau Brassica juncea L. pada berbagai jenis tanah yang berbeda, dan telah dilakukan mulai bulan April hingga Mei 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan yang memberikan pengaruh terbaik (perbedaan antara perlakuan) pertumbuhan dan produksi tanaman sawi hijau Brassica juncea L. Perlakuan yang dicoba yaitu A (Tanah organosol) B (tanah pasir), C (tanah lateril) dan D (tanah kapur). Parameter yang diamati adalah jumlah daun, panjang daun, lebar daun, dan berat basah tanaman sawi hijau Brassica juncea L. Data dianalisis mengunakan sidik ragam (ANOVA). (A Tanah Laterit) yang menghasilkan nilai rata-rata untuk setiap variable pengamatan yaitu untuk jumlah daun sebanyak 12 daun, lebar daun 15,833 cm, panjang daun 23,333 cm dan berat tanaman 173,5 gr (B Tanah Pasir) yang menghasilkan nilai rata-rata untuk setiap variable pengamatan yaitu untuk jumlah daun sebanyak 9 daun, lebar daun 12,833 cm, panjang daun 19,667 cm dan berat tanaman 94,333 gr. (C Tanah Organosol) yang menghasilkan nilai rata-rata untuk setiap variable pengamatan yaitu untuk jumlah daun sebanyak 10 daun, lebar daun 12,500 cm, panjang daun 19,000 cm dan berat tanaman 88,333 gr.( D Tanah Kapur) yang menghasilkan nilai rata-rata untuk setiap variable pengamatan yaitu untuk jumlah daun sebanyak 9 daun, lebar daun 14,500 cm, panjang daun 18,833 cm dan berat tanaman 142,167 gr. Kata kunci: Sawi Hijau (Brassica juncea L), Tanah Laterit *) Peneliti **) Pembimbing 1 ***) Pembimbing 2
“PENGARUH LAMA FERMENTASI SELAMA PEMBUATAN KEFIR SUSU KACANG KEDELAI”
PENGARUH LAMA FERMENTASI SELAMA PEMBUATAN KEFIR SUSU KACANG KEDELAI Bhoko E*) Nuhamara Ir.N**) Nubatonis L.M**) ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium processing UKAW dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik mutu kefir susu kacang kedelai dan menentukan mutu organoleptik meliputi rasa, aroma, warna, dan penerimaan secara keseluruhan.Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing diulang 3 kali dengan Lama Fermentasi 12 jam, 14 jam, 16 jam dan 18 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Uji Ananlisis Organoleptik tertinggi terdapat pada perlakuan Bdengan Lama Fermentasi 14 jam terhadap rasa kefir susu kacang kedelai yang tertinggi dengan skor 4,833 (sangat suka), aroma kefir susu kacang kedelai yang paling tinggi disukai yaitu terdapat pada perlakuan B dengan skor 4,750 (sangat suka),warna kefir susu kacang kedelai yang paling tinggi disukai yaitu terdapat pada perlakuan B dengan skor 4,295 (sangat suka). Kata kunci : Kefir, Kacang Kedelai, Organoleptik dan Susu Kacang
PENAMBAHAN TEPUNG LABU KUNING (Cucurbita moschata) PADA TEPUNG TERIGU TERHADAP SIFAT FISIK KIMIA DAN ORGANOLEPTIK BISKUIT
TERIGU TERHADAP SIFAT FISIK KIMIA DAN ORGANOLEPTIK BISKUIT Feronika Mo’i*) , Lesybeth M Nubatonis**) Zet Malelak**) ABSTRAK Biskuit adalah produk panggang dalam bentuk potongan kecil dan mempunyai tekstur atau konsistensi yang kering, renyah dan tekstur berpori lebih rapat Penelitian ini tentang Penambahan tepung labu kuning pada tepung terigu terhadap sifat fisik kimia dan organoleptik biskuit dan metode yang digunakan adalah menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga menghasilkan 12 unit percobaan. analisis menunjukan bahwa Perlakuan lama waktu pembuatan dalam menghasilkan biskuit memberikan pengaruh yang sangat nyata (P>0,01) pada taraf signifikan 1% terhadap organoleptik biskuit yaitu aroma, warna, rasa dan tekstur biskuit. Hasil analisis dan pembahasan menunjukkan bahwa perlakuan yang tepat dengan lama waktu pembuatan dalam menghasilkan biskuit terdapat pada perlakuan D 15 menit yang mendapat rata-rata nilai untuk setiap variabel yaitu tingkat kesukaan aroma biskuit (4,611) sangat suka, rasa biskuit (4,77) sangat suka, warna biskuit (4,567) sangat suka tekstur biskuit (4,711). Kata Kunci : labu kuning, pembuatan ,biskuit, aroma, rasa, warna, tekstur.
OPTIMASI SUHU DAN LAM A WAKTU PEMANGGANGAN TERHADAP COOKIES SUSPENSI BUAH LONTAR (Borassus flabellifer)
OPTIMASI SUHU DAN LAMA WAKTU PEMANGGANGAN TERHADAP COOKIES SUSPENSI BUAH LONTAR(borassus flabellifer) AGUSTINUS MAU LOE1), LESYBETH M. NUBATONIS2),ZET MALELAK2) ABSTRAK Cookies adalah salah satu jenis makanan ringan yang banyak digemari oleh semua kalangan, seperti: anak-anak, remaja, maupun orang tua.Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan juni 2021 di laboraturatorium ekstra fakultas teknologi pertanian Universitas Kristen Artha wacana Kupang tentang menganalisis pengaruh optimasi suhu dan lama pemanggangan dalam membuat cookies dan metode yang digunakan adalah menggunakan Response surface methodology (RSM) dengan 12 perlakuan terhadap suhu dan waktu pemanggan dalam membuat cookies yaitu warna,rasa, tekstur dan daya terima. Hasil analisis dan pembahasan menunjukkan bahwa perlakuan dengan pengaruh suhu dan waktu pemanggangan dalam membuat cookies terdapat pada suhu 60°C,70°C,80° dengan waktu pemanggangan 20,25,30 menit Kata Kunci: suhu,waktu, cookies, daya terima, RSM
LAMA WAKTU PEMASAKAN GULA DALAM MENGHASILKAN KARAKTERISTIK TENTENG KACANG TANAH
LAMA WAKTU PEMASAKAN GULA DALAM MENGHASILKAN KARAKTERISTIK TENTENG KACANG TANAH Rolan K.A.Nenomataus1), Lesybeth M.Nubatonis1)Zet Malelak2) ABSTRAK Kacang tanah merupakan salah satu produk yang banyak dijumpai di Belu dan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari kacang tanah dapat diolah menjadi beberapa produk salah satunya adalah tenteng kacang tanah. Penelitian bertujuan untuk mengatahui lama waktu pemasakan gula dalam menghasilkan tekstur tenteng yang terbaik dan untuk mendapatkan salah satu perlakuan lama waktu pemasakan pada pembuatan tenteng. Metode yang digunakan adalah Rancang Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga menghasilkan 12 unit percobaan. Hasil analisis menunjukan bahwa perlakuan lama waktu pemasakan gula menghasilkan karakteristik organoleptik tenteng kacang tanah yaitu warna, rasa dan tekstur memberikan pengaruh yang sangat nyata pada taraf 1%. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan lama waktu pemasakan gula menghasilkan karakteristik tenteng kacang tanah yang terbaik terdapat pada perlakuan B ( lama waktu pemasakan 5 menit) dengan nilai rata-rata tingkat kesukaan rasa tenteng kacang tanah (4,861) sangat suka, warna tenteng kacang tanah (4,611) sangat suka dan tekstur tenteng kacang tanah (4,722). Kata Kunci : kacang tanah, pemasakan, tenteng, rasa, warna, tekstur.
FORTIFIKASI TEPUNG KELOR PADA GEL RUMPUT LAUT DALAM PEMBUATAN PUDING
FORTIFIKASI TEPUNG KELOR PADA GEL RUMPUT LAUT DALAM PEMBUATAN PUDING Ayu Dima *) Nubatonis M Lesybeth **) Malelak Zet **) Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana Kupang ABSTRAK Puding merupakan salah satu jenis hidangan penutup (dessert) yang digemari oleh masyarakat dari berbagai usia. Penelitian ini tentang fortifikasi tepung kelor pada gel rumput laut dalam pembuatan puding dan metode yang digunakan adalah menggunakan Rancang Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga menghasilkan 12 unit percobaan. Hasil analisis menunjukan bahwa fortifikasi tepung kelor pada gel rumput laut dalam pembuatan puding memberikan pengaruh yang sangat nyata (P>0,01) pada taraf signifikan 1% terhadap organoleptik puding yaitu aroma, warna, rasa dan tekstur. Hasil penelitian yang tebaik pada fortifikasi tepung kelor pada gel rumput laut dalam pembuatan puding terdapat perlakuan B. 5% tepung keloryang menghasilkan tingkat kesukaan aroma puding (4,72) sangat suka, rasa puding (4,861) sangat suka, warna puding (4,583) sangat suka dan tekstur puding (4,787). Kata Kunci : kelor,rumput laut,puding
PENGARUH PENAMBAHAN GELATIN PADA PEMBUATAN SIRUP SUSPENSI BUAH LONTAR
PENGARUH PENAMBAHAN GELATIN PADA PEMBUATAN SIRUP SUSPENSI BUAH LONTAR Frengki Mbepa Landu Amah, Lesybeth,M, Nubatonis, Zet Malelak ABSTRAK Penilitian ini dilaksanakan di laboraturium processing UKAW dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik mutu sirup suspensi buah lontar dan menentukan mutu organaleptik meliputi rasa,warna,dan aroma.dan penerimaan secara keseluruhan metode yang digunakan adalah metode eksprimen dan menggunakan rancangan alat lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan masing masing diulang tiga kali dengan presentase 0,5%,1%,1,5% gelatine hasil penilitian menunjuka bahwa uji analisis organaleptik tertinggi terdapat pada perlakuan B 1% gelatine terhadap rasa sirup suspensi buah lontar dengan skor nilai tertinggi rata rata 4,76(sangat suka)aroma sirup dengan skor tertinggi nilai rata rata 14,1(sangat suka) dan warna sirup yang paling tinggi dan disukai yaitu terdapat pada perlakuan B dengan skor rata rata 4,63(sangat suka) Kata kunci : Suspensi lontar gelatin sirup. 1.Peneliti 2 Pembimbing
OPTIMASI GULA TEBU DAN GULA LONTAR DALAM MENGHASILKAN TEKSTUR SARUTAN GORENG UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas)
OPTIMASI GULA TEBU DAN GULA LONTAR DALAM MENGHASILKAN TEKSTUR SARUTAN GORENG UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas) DONI U PILA), LESYBETH M. NUBATONIS1), ZET MALELAK2) ABSTRAK Ubi jalar ungu adalah salah satu komoditas pertanian jenis umbi-umbian yang cukup penting di Indonesia sebagai sumber pangan dan sebagai salah satu sumber karbohidrat Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan juli 2021 di laboraturatorium eksata fakultas teknologi pertanian Universitas Kristen Artha wacana Kupang tentang menganalisis pengaruh optimasi gula tebu dan gula lontar dalam menghasilkan tekstur sarutan goreng ubi jalar ungu metode yang digunakan adalah menggunakan Response surface methodology (RSM) dengan 12 perlakuan terhadap gula tebu dan gula lontar yaitu warna, rasa, tekstur dan. Hasil analisis dan pembahasan menunjukkan bahwa perlakuan dengan pengaruh optimasi gula tebu dan gula lontar terhadap pembuatan sarutan goreng ubi jalar ungu terdapat pada gula tebu 12,15,20,25,dan 27 dengan gula lontar 62,65,70,75,dan 77gram Kata Kunci : Gula tebu, gula lontar sarutan goreng tekstur, RSM
PENGARUH LAMA FERMENTASI NIRA GEWANG TERHADAP TOTAL ASAM ASETAT
ABSTRAK Asam asetat dapat dibuat dari substrat yang mengandung etanol, yang dapat diperoleh dari berbagai macam bahan pertanian salah satunya adalah nira. Tersedianya nira gewang dalam jumlah besar di Indonesia merupakan potensi yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Nira gewang dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam pembuatan cuka melalui proses fermentasi. Hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan cuka yang semakin bertambah di industri makanan, laboratorium (kimia, biologi), pabrik farmasi dan sebagainya. Nira gewang dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam pembuatan cuka melalui proses fermentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Lama Fermantasi terbaik terdapat pada perlakuan D dengan lama fermentasi 12 hari dengan nilai rata-rata 8,560% yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan C dengan nilai rata-rata 7,053% dengan lama fermentasinya selama 9 hari, namun sangat berbeda nyata dengan perlakuan B selama 6 hari dengan nilai rata-rata 5,360% dan sangat berbeda nyata juga dengan perlakuan A dengann nilai rata-rata 1,107% selama 3 hari merupakan nilai rata-rata yang terendah. Selain perbedaan asam asetat terjadi penurunan pH asam asetat (cuka) pada setiap tindakan perlakuan berdasarkan lama fermentasi yang berbeda. Nilai asam tertinggi terdapat pada fermentasi 3 hari, yaitu 3,033 dan yang terendah, adalah lama fermentasi 12 hari dengan kadar pH yaitu 2,200 . Terjadinya perubahan pH pada perlakuan menunjukan adanya perombakan alkohol membentuk asam asetat yang menyebabkan pH larutan menurun. Kata Kunci : fermentasi, Nira Gewang asam asetat.
WAKTU FERMENTASI PADA TEMPE KACANG TUNGGAK (vignaunguucilata) TERHADAP SIFAT SENSORIK TEMPE
ABSTRAK EFEK WAKTU FERMENTASI TEMPE KACANG TUNGGAK (vignaunguucilata) Rassi N. M*) Godlief F. Neonufa**) Zet M**) Tempe adalah makanan hasil fermentasi yang populer di Indonesia dan dibuat dari kacang-kacangan (Syam dan Patang, 2018). Melalui proses fermentasi, kacang-kacangan yang dicampur dengan ragi tempe akan membentuk padatan kompak berwarna putih. Warna putih disebabkan adanya miselia jamur yang tumbuh pada permukaan biji kacang-kacangan yang menghubungkan biji-biji tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek waktu fermentasi tempe kacang tunggak Terhadap organoleptik (rasa,warna, aroma, dan tekstur) sebagai bentuk penganekaragaman produk olahan dari kacang tunggak. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan presentase fermentasi 1 hari, fermentasi 2 hari, fermentasi 3 hari, fermentasi 4 hari tempe kacang tunggak. Hasil penelitian menunjukan bahwa Uji Analisis Organoleptik tertinggi terdapat pada perlakuan fermentasi 2 hari, yang dimana proporsi tempe kacang tunggak fermentsi 2 hari terdapat tekstur tempe kacang tunggak yang tertinggi dengan skor 3,7, rasa tempe kacang tunggak yang paling tertinggi disukai yaitu terdapat pada perlakuan fermentasi 2 hari dengan skor 3,9,aroma tempe kacang tunggak yang paling tertinggi disukai yaitu terdapat pada perlakuan fermentsi 2 hari dengan skor 3,7, warna tempe kacang tunggak yang sesuai dengan pengamatan terhadap kartu warna makanan, warna yang paling tegas terdapat pada perlakuan fermentasi 2 hari dengan indikator warna 16 PMS 142 kuning kecoklatan. Kata kunci : Bahan Pengolahan Pangan, Tempe Kacang Tunggak *) Penelitian
PENGARUH PENAMBAHAN GULA DALAM MENGHASILKAN PERMEN SUSPENSI LONTAR
PENGARUH PENAMBAHAN GULA DALAM MENGHASILKAN PERMEN SUSPENSI LONTAR Yulita K Mbaring*) Nubatonis M.Lesybeth**) MalelakZet**) ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan dilaboratorium Eksata universitas Kristen Artha Wacana Kupang pada tanggal 8-9 juli 2021. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh dari penambahan gula dala m menghasilkan permen lontar. Metode yang digunakan adalah menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing di ulang sebanyak 3 kali sehingga menghasilkan 12 unit percobaan dengan presentase 80 gr, 100 gr, 120 gr, 140 gr gula. Hasil penelitian menunjukan bahnwa uji analisis organoleptik pada Aroma permen tertinggi terdapat pada perlakuan C dengan penambahan 120 gr gula yang menghasilkan nilai rata-rata 4,25, rasa pada permen yang paling tertinggi (suka) terdapat pada perlakuan C dengan nilai rata-rata 4,25, dan Tekstur permen yang paling tertinggi disukai yaitu terdapat pada perlakuan C dengan nilai rata-rata 4,416. Penambahan 140 gr gula menunjukan tingkat kekerasan tertinggi yaitu 4,533 berbeda nyata terhadap perlakuan penambahan gula 80,100,120 gr. Kata Kunci :permen, buah lontar, warna, rasa, dan tekstur.
PENGARUH RATIO TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG DAUN KELOR ( Moringa Oleifera ) TERHADAP KUALITAS KUE BAKPIA
PENGARUH RATIO TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG DAUN KELOR ( Moringa Oleifera ) TERHADAP KUALITAS KUE BAKPIA Laurensius Bala Maran1), Melkianus Nuhamara2), Lesybeth M. Nubatonis2) ABSTRAK Daun kelor sangat kaya akan nutrisi diantaranya kalsium, besi, protein, dan vitamin. Daun kelor dapat diolah bersamaan dengan tepung terigu dalam pembuatan bakpia. Bakpia merupakan salah satu jenis jajanan tradisional dengan isian keju, coklat, kacang hijau, kacang tanah yang berbentuk sedang tanpa penambahan bahan pengembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ratio kue bakpia yang terbuat dari tepung terigu dengan penambahan tepung daun kelor dan untuk mengetahui formulasi pembuatan kue bakpia. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Parameter yang dianalisa adalah nilai organoleptik hedonik warna, aroma, rasa, dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan tepung terigu dengan tepung daun kelor memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap nilai organoleptik hedonik warna, aroma, rasa, dan tekstur. Perlakuan B merupakan perlakuan terbaik dengan rasio tepung terigu dan tepung daun kelor 100% : 2,5% menghasilkan kue bakpia yang disukai.
PENGARUH SUHU PENGERINGAN TERHADAP KUALITAS ORGANOLEPTIK DALAM PEMBUATAN TEH DAUN KELOR (moringa oleifera Lam)
PENGARUH SUHU PENGERINGAN TERHADAP KUALITAS ORGANOLEPTIK DALAM PEMBUATAN TEH DAUN KELOR (Moringa Oleifera Lam) Dominggus P. Rohi*) ( Nuhamara M **) I.D.A.A.R.R.Adi**) Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Univesitas Kristen Artha Wacana Kupang ABSTRAK Penelitian ini tentang pengaruh suhu pengeringan terhadap kualitas organoleptik dalam pembuatan teh daun kelor (Moringa Oleifera Lam) bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu pengeringan terhadap kualitas organoleptik dalam pembuatan teh daun kelor. Penelitian di laksanakan pada bulan Mei tahun 2021 bertempat di Rumah Pengering Bahtera Juragan Kelor.Metode yang di gunakan adalah metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 kali perlakuan dan masing -masing di ulang sebanyak 3 kali sehingga di dapat 12 unit percobaan.Daun kelor yang digunakan sebanyak 2 kg dengan masin- masing perlakuan suhu yang di berikan yaitu 500C,550C,600C dan 650C selama 5 jam .Variabel yang di amati dalam penelitian ini yaitu uji organoleptik terhadap warna,raroma dan rasa teh daun kelor .Hasil penelitian menunjukan pada suhu 600C menghasilkan kategori kesukaan tertinggi terdapat pada perlakuan C dengan suhu 600C yang menghasilkan nilai rata-rata 4,639 (sangat suka).Aroma teh kelor yang paling tinggi di sukai yaitu pada perlakuan C dengan nilai ratarata 4,722(sangat suka).Dan rasa teh daun kelor yang pling tinngi di sukai yaitu terdapat pada perlakuan C dengan skor 4,778 (sangat suka. Sedangkan hasil analisis kimia kadar air yang paling rendah pada teh daun kelor terdapat pada perlakuan D dengan suhu 65 0C menghasilkan nilai rata-ratya 8,542. Kata kunci: Suhu,Teh Kelor,Organoleptik teh kelor *(Peneliti) **(Pembimbing